Museum Penis dan Vagina, Melawan Tabu




Pada tahun 1974, bermula dari candaan, seorang sejarawan dan juga seorang guru yang telah mengabdi selama 37 tahun, Sigurdur Hjartarson ayah dari Thordur Sigurdsson mendirikan museum penis. Museum ini kemudian dibuka secara resmi untuk umum pada tahun 1997 dengan nama Museum Phatalogis Islandia. Museum ini mengoleksi ratusan penis terbesar di dunia yang berasal dari spesimen binatang.

Perkembangannya, museum ini juga kemudian menerima donasi penis spesimen manusia dari seorang Islandia berumur 96 tahun. Setidaknya, hingga saat ini, Museum Phatalogis Islandia ini telah memiliki koleksi penis dari berbagai ukuran binatang mulai paus, beruang, kuda, anjing laut, kucing, hamster hingga tikus. Di pintu masuk, pengunjung akan disambut oleh lingga dari paus sperma, yang berukuran 1,7 meter dan bobot 75 kilogram.

Museum ini tak pernah sepi dari pengunjung. Dan, berbeda dari museum lain, yang biasanya hening, pengunjung Museum Phatalogis selalu ramai, mereka berjalan menelusuri setiap lorong diiringi gelak tawa yang membuat suasana museum selalu ramai. Bagi pemilik museum dengan 286 spesimen biologis ini, Thordur Sigurdsson, kehadiran museum ini bukan untuk menonjolkan sisi erotika, melainkan lebih pada upaya edukasi.

Museum Vagina London

Setelah puluhan tahun museum penis berdiri, pada Oktober 2019, Florence Schechter mendirikan Museum Vagina di London. Menurutnya, proyek untuk mendirikan Museum Vagina London berawal kita ia menemukan Museum Penis di Islandia, dan ia tidak mendapati dalam museum itu sesuatu yang setara dengan vagina atau vulva, sehingga ia merasa perlu memberikan respon terhadap kurangnya refresentasi ginekologis dalam sektor budaya dan warisan budaya di seluruh dunia.

Misinya jelas, menyebarkan pengetahuan dan meningkatkan kesadaran anatomi kesehatan ginekologis, memberikan kepercayaan kepada semua orang untuk membicarakan masalah seputar anatomi ginekologi, menghapus stigma di sekitar tubuh dan anatomo ginekologi, bertindak sebagai forum femnisme dan hak-hak perempuan.

Florence Schechter memulai proyek ini dengan penggalangan dana komedi, pada Maret 2017 yang dipimpin Hayley Ellis, mereka menggelar berbagai acara hingga terkumpul dana sekitar 50 ribu poundsterling dari 1.000 orang. Museum Vagina ini kemudian resmi dibuka untuk umum pada 16 November 2019 yang lalu, diawali dengan pameran pertama berjudul "Muff Busters: Mitos Vagina dan Cara Melawannya" yang akan berakhir pada Februari 2020.

Prioritas utama museum ini adalah melawan tabu yang mengelilingi tubuh perempuan dan sebagai tempat untuk dapat berkata jujur dan terbuka. Rencananya museum ini akan dibuka setiap hari, pukul 10.00 – 18.00 waktu setempat.

Vagina, Tabu dan Momok

Ada dua hal yang menjadi perhatian utama kaum hawa terhadap vagina atau organ kenikmatannya; bau dan bentuk labia.

Pertama, terkait bau, di dalam vagina hidup berbagai jenis organisme, bisa berwujud bakteri, jamur ataupun lainnya. Normalnya, organisme itu ada bukan sebagai pengganggu Namun, untuk menjaga keseimbangan PH vagina. Semakin seimbang PH, semakin sehat vagina. Nah, untuk menjaganya tetap seimbang keberadaan jumlah organisme harus dikontrol. Mengontrol bukan berarti menghilangkan. Hal yang justru sering dilakukan para perempuan, dengan sembarangan menggosok dan mencuci vaginanya dengan sabun, kemudian dengan bangga dan percaya diri mengatakan, "Weew vaginaku harum, seperti Lavender."

Padahal, justru aksi menggosok atau mencuci vagina dengan sabun seperti ini bisa jadi akan menghilangkan segenap organisme dari area genital. Hal yang akan membuat vagina berbau aneh. Hal ini menjadi salah satu tujuan Florence Schechter mengenalkan anatomi vagina. Museum vagina didirikannya dengan tujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang vagina. Termasuk, salah satunya adalah mengedukasi tentang bahan pembersih yang bisa digunakan untuk memandikan alat genital.

Selama ini banyak perempuan bangga dan merasa memiliki vagina yang wangi semerbak setelah menggosoknya dengan sabun pembersih, tanpa mau tahu kandungan sabunnya apa saja. Akibatnya, vagina yang sudah asam menjadi bertambah asam, karena ketidaktahuan yang dipelihara dan dibiarkan beranak pinak. Mau bertanya malu, menganggap vagina dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya tabu untuk diungkapkan.

Mestinya, andai mau berpikir logis, vagina itu sesungguhnya memiliki keunikan, bau yang khas yang memang berbeda dengan aroma mawar atau lavender, sehingga realitasnya vagina terbentuk dengan aromanya tersendiri, sesehat apapun vagina, baunya akan tetap bau vagina.


Kedua, terkait labia. Semenjak 2001 permintaan labiaplasty semakin meningkat. Klinik penyedia layanan pun bermunculan. Kenapa? Ada banyak perempuan membenci bentuk labianya. Mereka merasa malu ketika labianya tumbuh berlebih, bergelambir, panjang sebelah, berwarna hitam, kusam atau bla bla bla. Keberadaan labia seperti ini dianggap sebagai sesuatu yang tidak normal. Sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.

Labiaplasty kemudian muncul sebagai solusi untuk membenahi, memodifikasi. Dan ternyata aksi memodifikasi organ intim seperti ini tidak hanya menyasar perempuan yang sudah menikah, bahkan merembet menarik minat gadis-gadis remaja. Kampanye vagina cantik ala kapitalis, inilah sumbernya, kampanye para pebisnis. Kampanye tentang bentuk vagina yang cantik semakin mampu menarik minat kaum perempuan untuk memodifikasi organ intimnya. Kampanye seperti ini sukses merubah persepsi perempuan tentang vagina.

Persepsi perempuan tentang labia menggelambir, rada tebal bergelombang atau berwarna gelap menghitam tidaklah iedal, labia ideal bagi mereka adalah yang berwarna merah cerah, berbibir tipis, mungil dan nampak tersenyum, tentu persepsi ini juga bergantung pada intervensi persepsi kaum laki-laki yang ‘menuntut’ atau ‘menjajah’.

Menurut Jamie McCartney, seorang seniman asal Inggris dalam artikel The Great Wall of Vagina? Ada sepuluh panel berisikan empat ratus macam bentuk labia dari berbagai usia, dan semuanya cantik. Panel-panel ini dibuat McCartney untuk memberikan dukungan kepada seluruh perempuan bahwa tidak ada yang salah dengan labia vagina mereka. Pun, jika labianya bergelambir, bibirnya panjang sebelah, berwarna hitam kusam atau apapun. Pokoknya vagina yang alami itu sudah cantik saja.

Patokannya dari mana? Ukurannya bergelambirnya dari mana? Standar warnanya dari mana? Tidak ada.

Wujud labia ideal hanya sebatas persepsi. Persepsi akibat kampanye pebisnis yang sukses menghipnotis. Persepsi yang mampu membuat semua perempuan tidak nyaman. Ketidaknyamanan semakin menjadi dan merembet. Bukan hanya tidak nyaman untuk dirinya. Para wanita mengambil jalan pembedahan karena merasa khawatir kelak pasangannya ikut menjadi tidak nyaman. Berkhayal pasangan tidak nyaman dengan labianya yang nampak seperti bibir cemberut.

Padahal pasangan yang berselingkuh itu bukan karena alasan labia atau hal tetek bengek lainnya, pasangan yang doyang berselingkuh karena memang sangean dan tidak setia. Itu saja, titik!

0 Response to "Museum Penis dan Vagina, Melawan Tabu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel