Menjadi Penulis Makmur di Era Digital



Menulis adalah mengalirkan gagasan melalui baris-baris aksara. Menulis adalah ikhtiar untuk menyampaikan ide kepada publik melalui berbagai medium dan kanal. Menulis adalah cara untuk menyentuh emosi orang lain, membangun silaturahmi, kemudian sama-sama bersepakat dengan gagasan tertentu.

Jika seseorang ingin hidup makmur dari kerja kepenulisan, maka harus berani meninggalkan zona nyaman, harus berani menjadi seorang penulis yang dibayar karena keahliannya.

Tentunya, kecakapan menulis saja tidak cukup. Anda harus berani memasarkan keahlian, melobi calon klien, serta meyakinkan calon klien kalau Anda sanggup mengerjakan kerja-kerja kepenulisan. Anda mesti membuka diri dan melihat berbagai celah baru yang bisa memberinya ruang untuk berkreasi, sekaligus mendapat penghasilan di situ.

Anda pun harus berani mengubah style menulis agar sesuai dengan keinginan klien. Bagus dan buruk dari kerja kepenulisan ini bukan terletak pada Anda dan calon pembaca, tetapi pada klien. Biar pun tulisan itu biasa saja, tapi klien merasa puas, maka Anda sudah bisa dikatakan berhasil.

Apakah ada pasarnya? Banyak banget.

Kita berada di era di mana eksistensi seseorang atau lembaga dilihat dari seberapa banyak orang yang mempercakapkannya. Kecakapan menulis dibutuhkan begitu banyak pihak, mulai dari akademisi di perguruan tinggi sampai lembaga-lembaga internasional yang hendak mendiseminasikan pengetahuan.

Catat pula, ada ribuan peneliti dan akademisi yang bisa naik pangkat jika punya publikasi. Ada ratusan pemerintah daerah yang butuh promosi dan diseminasi produk dan komoditas daerah, termasuk pariwisata. Ada ribuan pelaku bisnis yang butuh teknik copywriting untuk promosi produk dan belanja online.

Ada ribuan perusahaan yang butuh kemampuan menulis untuk diseminasi informasi dan citra lembaga. Ada ribuan politisi dan calon kepala daerah yang butuh narasi tentang dirinya agar disukai publik. Ada ratusan media, televisi, dan rumah produksi serta tim war room yang membutuhkan konten dan amunisi untuk disajikan ke publik.

Jika Anda punya kecakapan menulis, Anda bisa menjadi konsultan untuk semua kerja-kerja diseminasi itu. Anda bisa membantu banyak orang dan banyak lembaga dengan kecakapan Anda untuk mengenali audience dari dunia kepenulisan yang luas. Tentu saja, Anda bisa hidup makmur dari kemampuan itu.

Lagi-lagi kembali pada penulisnya. Ada saja yang berpandangan kalau kerja sebagai penulis berbayar dipandang rendah. Yaa, gak apa-apa sih. Jangan iri kalau lihat penulis lain lebih kaya.

***

Saat ini, kita hidup di era di mana ruang kreasi untuk menulis juga semakin luas. Dulu, penulis hanya berkreasi di medium cetak, baik itu melalui buku, dan publikasi lainnya. Kini penulis punya arena yang sangat luas. Penulis  bisa memanfaatkan era digital yang mau tak mau perlahan menjadi atmosfer masyarakat modern hari ini.

Dalam pandangan saya, profesi yang paling banyak diuntungkan di era digital adalah penulis. Tak percaya? Mari kita diskusi.

Pertama, kita masuk pada era digital di mana kecakapan menulis menjadi sangat bernilai. Eric Schmidt, mantan CEO Google, bilang era digital ditandai oleh berpindahnya penghuni rumah nyata ke rumah maya. Maksudnya, semua orang, lembaga, perusahaan, dan instansi ingin membangun rumah maya. Mereka berbondong-bondong membangun website.


Nah, orang mengira bahwa pekerjaan web adalah arena bagi para programer dan ahli IT. Ini keliru besar. Sebab orang IT punya kecakapan membangun web, tapi belum tentu punya kecakapan untuk mengisi konten. Ibaratnya, orang IT jago bikin rumah, tapi belum tentu bisa meramaikan rumah itu dengan aktivitas.

Bagian terpenting dari kerja-kerja web adalah hadirnya seorang kreator konten yang tahu apa pesan yang hendak disampaikan, serta bagaimana mengelola pesan itu sehingga bisa diterima khalayak luas.

Dalam beberapa diskusi dengan pemimpin perusahaan di Jakarta, saya mendengar sendiri cerita mereka kalau lemahnya web perusahaan disebabkan hanya memperkuat satu sisi yakni IT, sementara sisi pengelolaan konten justru sangat lemah. Padahal, jika ingin web itu kuat dan berdaya, maka harus ada keseimbangan antara bangunan web (aspek IT) dan kualitas isi web yang harusnya dikelola profesional oleh para penulis konten.

Kedua, bukan hanya web, era sekarang memberi ruang bagi kehadiran media sosial yang sangat besar. Hampir semua kantor, perusahaan, lembaga, organisasi membutuhkan saluran khusus atau kanal di media sosial. Di era ini tak cukup lagi berjejaring dengan media. Semua lembaga butuh satu kanal sendiri sebagai pelantang informasi kepada publik.

Belakangan ini, saya banyak bertemu anak muda yang mengelola banyak akun media sosial lembaga atau perusahaan. Pernah, saya menemukan satu anak muda yang mengelola lima akun media sosial. Jika untuk satu akun dia dibayar sampai 10 juta rupiah, hitung sendiri berapa rupiah yang bisa dia panen setiap bulan. Malah, banyak yang membuat perusahaan kemudian punya klien lebih dari 10 lembaga.

Para pengelola konten ini butuh kecakapan menulis serta kemampuan untuk menggali ide-ide baru demi konten yang lebuh segar. Di tangan para penulis hebat, kualitas konten bisa selalu terjaga sehingga bisa menggaet pengunjung lebih banyak.

Ketiga, di dunia bisnis online, orang butuh banyak pencerita handal yang mengabarkan satu produk secara luas. Dalam buku Storynomics yang ditulis Robert McKee, terdapat uraian bagaimana promosi atau iklan gaya lama yang kini digusur oleh storytelling atau pendekatan bercerita.

Storytelling adalah fundasi utama dari pemasaran konten. Anda tak mungkin memasarkan sesuatu jika tak punya kisah menarik. Kita sama tahu, sekarang ini banyak orang yang terlalu mendewakan big data untuk memahami manusia. Padahal, big data hanyalah satu instrumen yang membantu seseorang untuk merancang konten secara efektif.

Saya lihat beberapa orang telah mengembangkan teknik storytelling untuk memperbesar omzet penjualan. Artinya, jika Anda punya belanja online, Anda harus berpromosi. Anda harus meyakinkan orang lain. Untuk berpromosi, Anda mesti punya kemampuan memahami realitas serta tahu cara menggemakan pesan melalui tulisan.

Keempat, dunia politik kita sedang bergerak ke era 4.0, di mana seorang politisi tidak bisa lagi pasif dan menunggu diberitakan media. Seorang politisi atau pun pejabat publik harus berani menjemput bola dengan cara berselancar di dunia offline dan dunia online sekaligus. Semuanya membutuhkan satu tim humas yang bisa menjadi pengelola informasi yang tangguh. Semuanya membutuhkan seorang kreator konten.

Di dunia politik, para kreator konten akan menjadi juru bicara digital yang efektif dalam menentukan bagus tidaknya brand dari politisi atau partai politik. Di dunia ini berlaku pandangan “Semakin banyak likes, maka semakin tinggi elektabilitas.”

Bukan hal aneh jika melihat seorang politisi dan pejabat publik ke mana pun akan datang bersama tim media. Sering kali mereka menjalin relasi dengan beberapa media, tetapi jauh lebih efektif jika mengelola informasi melalui satu tim khusus yang digaji secara profesional.

*** 

“Bisakah kegiatan menulis menjadikan seseorang makmur?” tanya seorang kawan. Tentu saja bisa. Yang penting seseorang punya kejelian dalam melihat mana ceruk yang bisa dikelola menjadi bisnis sehingga mendapatkan bayaran yang pantas.

“Apakah Anda sendiri sudah makmur karena menulis?” kawan itu masih bertanya. Ini pertanyaan yang sulit dijawab. Saya punya banyak kawan yang sudah makmur gara-gara menulis.

Saya sendiri masih nyaman menjadikan kerja menulis sebagai cara untuk menggaet fans sebanyak-banyaknya. Tapi, saya tahu bahwa ada banyak cara untuk mengubah kegiatan itu menjadi sesuatu yang produktif.

Yusran Darmawan
timurangin@yahoo.com

0 Response to "Menjadi Penulis Makmur di Era Digital"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel